Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Mimin Sahmini, S.S., M.Pd.

Artikel Umum

Pembelajaraan Sastra dengan Model Bermain Peran Melalui Pemutaran Video Wayang Golek Berbasis Kearifan Lokal Upaya Peningkatan Keterampilan Berbicara oleh: Mimin Sahmini

Dipublikasikan pada : 15 April 2016. Kategori : .

Pembelajaraan Sastra dengan Model Bermain Peran Melalui Pemutaran Video Wayang Golek Berbasis Kearifan Lokal Upaya Peningkatan Keterampilan Berbicara

oleh: Mimin Sahmini

 

Abstrak

Kesuksesan dalam belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam terkait dengan motivasi dan tujuan siswa dalam belajar. Faktor dari luar dipengaruhi oleh guru, orang tua, sarana prasarana dan lingkungannya. Pembelajaran sastra merupakan salah satu pembelajaran yang dapat mengubah perilaku siswa kearah yang lebih baik, karena sastra merupakan penjelmaan kehidupan manusia dalam tulisan yang menggambarkan atau mencerminkan peristiwa kehidupan masyarakat, dan hasil kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatan dengan menggunakan bahasa. Salah satu pembelajaran sastra adalah menggunakan model pembelajaran bermain peran melalui pemutaran video pemutaran wayang golek sebagai upaya peningkatan keterampilan berbicara. Pemilihan video wayang golek berbasis kearifan lokal, sebagai upaya untuk melestarikan budaya agar generasi penerus bangsa tetap mengenal, mengetahui dan menikmati pertunjukkan wayang tersebut berdasarkan isi dari pertunjukkan wayang golek yang syarat dengan nilai-nilai kehidupan dan penggambaran karakter setiap pelaku dalam pembawaan karakter yang berbeda. Dengan demikian peserta didik dapat menilai isi, pelaku, karakter tokoh, amanat, dan nilai-nilai moral dalam pertunjukkan wayang tersebut melalui model bermain peran.

Kata Kunci    : Pembelajaran Sastra, Model Bermain Peran, Wayang Golek, Kearifan Lokal dan Keterampilan Berbicara.

  1. Pendahuluan

Lemahnya proses pembelajaran di dunia pendidikan menjadi salah satu permasalahan yang belum terselesaikan. Dalam proses pembelajaran anak sering menjadi objek dalam pembelajaran. Kondisi seperti ini kurang menciptakan kekondusifan situasi belajar. Kreativitas anak dalam proses pembelajaran menjadi salah satu aspek yang menunjang keberhasilan pembelajar, sehingga dihasilkan siswa yang cerdas, terampil, dan berbudi luhur. Agar tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan menarik, sudah menjadi kewajiban setiap guru untuk membuar rancangan pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran tercapai maksimal, tampaknya perlu ada kerjasama antara guru yang mengampu mata pelajaran yang berbeda, hal ini dilakukan agar terjalin keselarasan dan pertukaran pemikiran yang dapat memperkaya khsazanah bahan ajar dan media pembelajaran. Siswa pun harus dijadikan sentral dalam pembelajaran.

Upaya guru untuk meciptakan pembelajaran efektif, perlu dipikirkan oleh setiap guru. Hal ini perlu perencanaan dan pemilihan metode, media yang tepat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Setiap guru harus mampu membangkitkan semangat siswa dalam pembelajaran, sehingga setiap siswa dapat berpartisipasi dan menghasilkan temuan-temuan yang bermanfaat bagi kehidupannya dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Dalam pembelajaran sastra seharusnya dapat menggugah rasa peserta didik, dari karakter siswa yang kurang peduli terhadap temannya menjadi peduli, dari yang kurang bertanggungjawab menjadi bertanggungjawab, dan dari yang kurang disiplin menjadi disiplin. Adanya perubahan sikap dari hasil pembelajaran dapat dikatakan pembelajaran tersebut baik dan bernilai. Selaras dengan yang dikemukakan oleh Suendar dan Supinah (1993 hlm.1) kebenaran dan keindahan dalam karya sastra hendaknya dikaitkan dengan nilai-nilai benar dan nilai-nilai indah. Dalam sebuah karya sastra harus bisa menjanjikan kepada pencinta sastra suatu kepekaan terhadap nilai-nilai hidup yang arif menghadapi lingkungan kehidupan, realitas kehidupan, dan realitas nasib dalam hidup. Dengan demikian dari pembelajaran sastra, diharapkan setiap siswa mampu menyikapi kehidupan ini tidak dengan keputusasaan. Namun permasalahan yang dihadapinya menjadikan dia lebih kuat dalam menghadapi hidup kedepannya.

Tujuan pembelajaran sastra adalah menghasilkan siswa yang cerdas, berbudi luhur, dan berguna bagi sesama. Artinya, tidak hanya kognitif saja namun dapat mengolah rasa dan dapat melakukan sesuatu yang berguna. Fenomenal alam yang terjadi banyak ditemukan sosok orang yang pintar namun kurang berperasaan, terbukti dengan banyaknya orang yang korupsi, pembunuhan, pelecehan seksual, dan kejahatan-kejahatan lainnya. Hal ini menjadi momok yang menyeramkan jika terus menghantui negara kita. Untuk itu kita sebagai pendidik harus berupaya keras agar menghasilkan peserta didik yang berhati emas dan cerdas sehingga perilaku-perilaku tersebut tidak terulang lagi.

Menurut Fajarini (2014, hlm.123-124) Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat “local wisdom” atau pengetahuan setempat “local knowledge”: atau pengetahuan jenius “local jenius”. Dengan demikian bahwa kearifan lokal merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil pengalaman dan kecerdasan manusia yang dijadikan pedoman hidup.

Negara Indonesia yang memiliki petatah- petitih Melayu, bahasa kromo inggil Jawa, petuah yang diperoleh berbagai suku di Indonesia. Hal tersebut merupakan contoh keragaman ungkapan suku-suku bangsa yang menjadi bagian dari kearifan lokal, yang menjadi kendali dalam menjalankan kehidupan.

Salah satu model pembelajaran aktif adalah model bermain peran merupakan strategi yang digunakan oleh pendidik dengan maksud meminta peserta didik untuk memainkan peran dari cerita yang disampaikan oleh guru atau media pemutaran video atau memunculkan ide atau gagasan secara lisan dan diperagakan. Kegiatan ini perlu dikendalikan oleh pendidik tetapi tidak membatasi semua gagasan yang muncul dari peserta didik, kemudian diperagakan sesuai dengan adegan dan karakter yang telah dipilih oleh peserta didik.

Wayang merupakan seni pertunjukan dari Jawa, bentuk teater rakyat yang sangat populer. Wayang golek adalah seni tradisional sunda, terbuat dari boneka kayu. Penyebarannya terbentang luas dari Cirebon di sebelah timur wilayah Banten di sebelah barat, bahkan di daerah Jawa Tengah yang berbatasan dengan daerah Jawa Barat sering pula dipertunjukkan pergelaran wayang golek.

Sebagaimana alur cerita pewayangan umumnya, dalam pertunjukkan wayang golek juga biasanya memiliki lakon-lakon baik galur maupun carangan. Alur cerita dapat diambil dari cerita rakyat seperti penyebaran agama islamoleh Walasungsang dan Rara Santang maupun dari epik bersumber Ramayana dan Mahabarata dengan menggunakan bahasa Sunda dengan iringan gamelan sunda (salendro), yang terdiri dari dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, satu perangkat boning, atu perangkat boning rincik, satu perangkat kenong, sepasang gong, ditambah dengan seperangkat kendang ( sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), gambang dan rebab. (Wikipedia)

Fungsi pertunjukkan wayang golek relevan dengan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spritual maupun material. ha

Berbicara merupakan kemampuan seseorang untuk mengungkapkan pikiran, gagasan dan perasaan dalam bentuk lisan. Kelancaran berbicara diperoleh dari hasil simakan dan bacaan yang baik. Orang yang terampil berbicara biasanya memiliki daya serap simak yang baik. Seseorang dikatakan terampil berbicara apabila orang tersebut dapat menyampaiakan ide, gagasan, pikiran dan perasaan kepada orang lain dengan baik sehingga orang paham betul apa yang disampaikan. Setiap siswa dapat menyampaikan apa pun yang ada dalam benak pikirannya, berdasarkan tontonan pertunjukkan wayang golek. Terampil mengapresiasi dan berekspresi suatu karya sastra bukan hal yang mudah, namun merupakan sebuah proses. Beroleh pengalaman bersastra kita harus membaca beberapa hasil sastra dan menulis pelbagai pengalaman dalam sebuah karya sastra. Dalam hasil sastra tertuang pelbagai pengalaman manusia. Pengenalan mendalam tentang pengalaman hidup dan terkandung dalam sastra serta jawaban kita terhadapnya merupakan apresiasi sastra.

Ekspresi merupakan daya mencipta sebuah karya. Setiap orang memerlukan ekspresi dalam hidupnya. Untuk menghasilkan ekspresi dalam sastra kita harus mencoba dan berlatih menulis baik itu karangan, cerita, puisi, melukis  dan lain-lain.Dalam pengajaran satra kegiatan berekspresi dapat dilakukan dalam kegiatan bercerita, mengarang, berdeklamasi, membaca nyaring, berpuisi dan bermain peran dalam drama.

  1. Pembahasan
  1. Pembelajaran

Dalam pembelajaran yang menjadi sentral adalah siswa, namun tidak melemahkan peranan guru dalam proses pembelajaran. Guru memiliki peranan yang sangat penting dan tetap harus tampil optimal. Dimana peranan guru dapat mengarahkan siswa dalam berkreativitas dan menafsirkan pengetahuan dari hasil bacaan, tontonan, dan suatu kajian. Dengan bimbingan dan arahan guru dapat memberi nutrisi pengetahuan bagi siswa. Mereka tetap harus berperan secara optimal.

Pembelajaran menurut Sanjaya (2006, hlm.104), “ pembelajaran” (instruction) itu menunjukkan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru. Di sini jelas, proses pembelajaran yang dilakukan siswa tidak mungkin terjadi tanpa perlakuan guru. Yang membedakannya terletak pada peranannya saja.

Bruce Weil ( Sanjaya, 2006, hlm 104) mengemukakan ada tiga prisip dalam pembelajaran, diantaranya sebagai berikut.

  1. Proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa. Dengan demikian dalam proses pembelajaran menuntut siswa untuk dapat beraktivitas dalam menemukan sesuatu hal yang baru berdasarkan temuan sendiri.
  2. Berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari, yaitu pengetahuan fisis, sosial, dan logika. Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek atau kejadian seperti berat, besar, bentuk, serta bagaimana objek itu berinteraksi satu dengan yang lainnya. Pengetahuan fisis diperoleh melalui pengalaman indra secara langsung.

Pengetahuan sosial berhubungan dengan perilaku individu dalam suatu sistem sosial atau hubungan antara manusia yang dapat memengaruhi interaksi sosial. Contohnya pengetahuan tentang aturan, norma, hukum, moral, nilai, bahasa, dan lain sebagainya.

Pengetahuan logika berhubungan dengan berpikir yang dibentuk berdasarkan pengalaman dengan suatu objek dan kejadian tertentu. Pengetahuan ini diciptakan dan dibentuk oleh pikiran individu itu sendiri, sedangkan objek yang dipelajarinya hanya bertindak sebagai media saja. Misalkan pengetahuan tentang bilangan.

  1. Proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial. Melalui pergaulan dan hubungan sosial, anak akan belajar lebih efektif dibandingkan dengan belajar yang menjauhkan dari hubungan sosial. Oleh karena melalui hubungan sosial itulah anak berinteraksi dan berkomunikasi, berbagi pengalaman yang memungkinkan mereka berkembang secara wajar.
  2. Sastra

Sastra Indonesia tidak saja dijadikan sebagai sumber asli bahasa yang kaya akan dialog yang hidup dan menarik untuk dipelajari ciri kebahasaanya, dilafalkan, atau didramatisasikan, tetapi juga dapat dipelajari  sebagai sumber sejarah, ekonomi, politik, budaya, sosisal, dan agama pada saat karya satra itu ditulis. Dengan demikian, pembelajaran satra dapat dapat dijadikan sebagai jendela lintas budaya, sebab, dalam pengajarannya, satra Indonesia dapat dijadikan sebagai rekaman identitas nasional dan warisan  budaya bangsa Indonesia yang menyediakan sumber sejarah, politik, dan budaya Indonesia.

Pembelajaran sastra merupakan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum pelajaran bahasa Indonesia serta  bagian dari tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan serta kreativitas. Model pembelajaran sastra dengan model bermain peran untuk peningkatan daya berpikir kreatif serta dapat meningkatkan keterampilan berbicara adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh pendidik untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Usaha penerapan model tersebut disesuaikan dengan tingkat capaian yang diinginkan oleh pendidik.

Sedangkan yang dimaksud dengan pembelajaran pada hakekatnya merupakan proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi transaksional adalah bentuk komunikasi yang dapat diterima, dipahami dan disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran sehingga menunjukkan adanya perolehan, penguasaan, hasil, proses atau fungsi belajar bagi si peserta belajar.

Sastra merupakan salah satu bentuk kegiatan berbahasa. Bahasa sebagai mediumnya, baik antara pengarang dan penikmat karangannya dan bagi penyair serta pembacanya. Kegiatan berbahasa sudah berlangsung lama dan sampai sekarang pun kegiatan tersebut berproses untuk ememnuhi kebutuhan hidupnya. Walaupun banyak keluhan tentang masih kurangnya kegiatan bersastra itu dalam sastra-sastra daerah maupun sastra Indonesia .Akan tetapi, kegiatan itu sendiri tidak pernah berhenti. Dalam sastra ada pembut,ada produk yang dihasilkan,dan ada penikmat yang menikmati karya tersebut, antara yang satu danlainnya saling berhubungan. Dari karyasastra yang dihasilkan dengan adanya penikmat atau pembaca sastra akan ada kritikan-kritikan. Dari kritikan tersebut sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan akan mengalami perubahan dan perkembangan.

  1. Model Bermain Peran

Menurut Uno (2007, hlm. 25) Beberapa alasan model bermain peran dibuat, diantaranya sebagai berikut.

  1. Berdasarkan asumsi bahwa sangatlah mungkin menciptakan analogi otentik ke dalam suatu situasi permasalahan kehidupan nyata.
  2. Bermain peran dapat mendorong siswa mengekspresikan perasaannya dan bahkan melepaskannya.
  3. Proses psikologis melibatkan sikap, nilai, dan keyakinan (belief) kita serta mengarahkan pada kesadaran melalui keterlibatan spontan yang disertai analisis. Model ini dipelopori oleh George Shaftel.

Karakter orang yang berbeda dalam menyikapi permasalahan dan berhubungan dengan orang lain dengan cara yang unik, merupakan perilaku manusia yang menggambarkan keanekaragaman karakter, dimana orang ingin memerankan peranan orang lain. Dengan demikian untuk memahami diri sendiri dan orang lain sangatlah penting dalam kehidupan ini. Hal ini dilakukan agar kita merasakan hal yang dianggap menyenangkan dan hal yang dainggap menyedihkan dalam kehidupan ini. Pengalaman hidup merupakan pembelajaran secara alami.

Model bermain peran dalam pembelajaran melalui pemutaran video wayang golek berbasis kearifan lokal sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan membaca. Dimana peserta didik dapat memerankan peran yang sesuai dengan karakternya atau yang merupakan kebalikan dari karakternya. Hal ini dapat melatih peserta didik dalam menyikapi kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan, sehingga dengan melakukan sessuatu yang di luar kebiasannya dapat menjadikan pembelajaran secara langsung.

Tujuan model bermain peran untuk membantu siswa menemukan jati diri di dunia sosial dan melatih siswa dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya dengan bantuan kelompok. Kegiatan ini dapat membantu siswa dalam mengolah rasa, memperoleh inspirasi, pemahaman yang berpengaruh terhadap sikap, nilai, dan persepsinya. Bermain peran juga dapat mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah, dan upaya untuk mendalami mata pelajaran yang diampu dikaitkan dengan kehidupan nyata.

Langkah-langkah model pembelajaran bermain peran adalah sebagai berikut.

  • Pemanasan, Guru berupaya memperkenalkan siswa pada permasalahan yang mereka sendiri sebagai suatu hal yang bagi semua orang perlu mempelajari dan menguasainya melalui pemutaran video wayang golek.
  • Memilih pemain (partisipasi).siswa dan guru membahas karakter dari setiap pemain dan menentukan siapa yang akan memainkannya.
  • Menata panggung. Dalam hal ini guru mendiskusikan dengan siswa dimana dan bagaimana peran itu akan dimainkan.
  • Guru menunjuk beberapa siswa sebgai pengamat namun demikian, penting untuk dicatat bahwa pengamat disini juga harus terlibat aktif dalam permainan peran.
  • Permainan peran dimulai. Permainan peran dilaksanakan secara spontan. Pada awalnya akan banyak iswa yang masih bingung memainkan perannya atau bahkan tidak sesuai dengan peran yang seharusnya ia lakukan. Bahkan, memainkan peran yang bukan perannya.
  • Guru bersama siswa mendiskusikan permainan tadi dan melakukan evaluasi terhadap peran-peran yang dilakukan. Usulan perbaikan akan muncul. Mungkin ada siswa yang berganti peran atau bahkan alur ceritanya sedikit berubah.
  • Permainan peran ulang, seharusnya permainan peran kedua ini akan berjalan lebih baik. Siswa dapat memainkan perannya lebih sesuai dengan skenario.
  • Pembahasa diskusi dan evaluasi lebih diarah kepada realitas.
  • Siswa diajak untuk berbagi pengalaman tentang tema permainan peran yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan membuat simpulan.

 

  1. Wayang Golek

Indonesia sebagai negara berkembang dan negara yang berbudaya, dimana Indonesia kaya akan beragam budaya. Keanekaragaman budaya Indonesia menjadi salah satu aset yang harus diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Adapun budaya Indonesia yang menunjukkan ciri khasnya adalah budaya-budaya yang berakar, hidup, dan berkembang di berbagai kelompok suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Seni pewayangan sebagai bagian dari budaya Jawa memiliki relevansi dengan persoalan ‘jatidiri bangsa’ seni pewayangan dapat diposisikan sebagai salah satu jatidiri bangsa yang perlu mendapatkan perhatian yang kontiyu untuk melestarikan dalam menghadapi tantangan hidup dan perkembangannya.

  1. Kearifan Lokal

Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Pengertian di atas, disusun secara etimologi, di mana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Sebagai sebuah istilah wisdom sering diartikan sebagai ‘kearifan/kebijaksanaan’.

Local secara spesifik menunjuk pada ruang interaksi terbatas dengan sistem nilai yang terbatas pula. Sebagai ruang interaksi yang sudah didesain sedemikian rupa yang di dalamnya melibatkan suatu pola-pola hubungan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan lingkungan fisiknya. Pola interaksi yang sudah terdesain tersebut disebut settting. Setting adalah sebuah ruang interaksi tempat seseorang dapat menyusun hubungan-hubungan face to face dalam lingkungannya. Sebuah setting kehidupan yang sudah terbentuk secara langsung akan memproduksi nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut yang akan menjadi landasan hubungan mereka atau menjadi acuan tingkah-laku mereka.

Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang eksplisit yang muncul dari periode panjang yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan lingkungannya dalam sistem lokal yang sudah dialami bersama-sama. Proses evolusi yang begitu panjang dan melekat dalam masyarakat dapat menjadikan kearifan lokal sebagai sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup bersama secara dinamis dan damai. Pengertian ini melihat kearifan lokal tidak sekadar sebagai acuan tingkah-laku seseorang, tetapi lebih jauh, yaitu mampu mendinamisasi kehidupan masyarakat yang penuh keadaban.

Secara substansial, kearifan lokal itu adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertingkah-laku sehari-hari masyarakat setempat. Oleh karena itu, sangat beralasan jika Greertz mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya. Hal itu berarti kearifan lokal yang di dalamnya berisi unsur kecerdasan kreativitas dan pengetahuan lokal dari para elit dan masyarakatnya adalah yang menentukan dalam pembangunan peradaban masyarakatnya.

Teezzi, Marchettini, dan Rosini mengatakan bahwa akhir dari sedimentasi kearifan lokal ini akan mewujud menjadi tradisi atau agama. Dalam masyarakat kita, kearifan lokal dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari-hari. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu menjadi pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku mereka sehari-hari.

Proses sedimentasi ini membutuhkan waktu yang sangat panjang, dari satu generasi ke generasi berikut. Teezzi, Marchettini, dan Rosini mengatakan bahwa kemunculan kearifan lokal dalam masyarakat merupakan hasil dari proses trial and error dari berbagai macam pengetahuan empiris maupun non-empiris atau yang estetik maupun intuitif.

Kearifan lokal lebih menggambarkan satu fenomena spesifik yang biasanya akan menjadi ciri khas komunitas kelompok tersebut. kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi. Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita, legenda-legenda, nyanyian-nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan atau hukum setempat.

Kearifan lokal menjadi penting dan bermanfaat hanya ketika masyarakat lokal yang mewarisi sistem pengetahuan itu mau menerima dan mengklaim hal itu sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dengan cara itulah, kearifan lokal dapat disebut sebagai jiwa dari budaya lokal.

  1. Keterampilan Berbicara

Berbicara adalah proses perubahan wujud pikiran atau perasaan menjadi wujud ujaran atau bunyi bahasa yang bermakna yang disampaikan kepada orang lain.

Melalui pemutaran video wayang golek dan dilanjutkan dengan pembelajaran bermain peran. Para siswa akan lebih aktif dan kreatif, sehingga seluruh siswa lebih berinovasi dalam melaksanakan serangkaian kegiatan pembelajaran. Melalui permainan peran, siswa dapat meningkatkan kemampuan untuk mengenal perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. Mereka memperoleh cara berperilaku baru untuk mengatasi masalah seperti dalam permainan perannya dan dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah.

Dengan model bermain peran menuntut siswa terampil dalam berbicara, sehingga seluruh siswa penuh kesiapan untuk berperan dengan baik. Keterampilan berbicara. Untuk itu, penerapan model bermain peran sangat tepat diterapkan dalam pembelajaran keterampilan berbicara.

Berbicara merupakan salah satu kegiatan yang banyak dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik individu atau dalam hidup bermasyarakat. Berbicara merupakan kegiatan produktif karena dalam kegiatan ini orang dituntut menyampaikan ide/gagasan/hasil pemikiran dengan diucapkan.

  1. Penutup

Pengajaran sastra di sekolah tidaklah selalu terbebas dari segala prolematika maupun permasalahan yang terkadang nyaris membuat para pendidik menjadi frustasi. Dengan memahami hakikat pengajaran sastra dan tujuan pengajaran sastra yang sesungguhnya, guru dapat mengembangkan pengajaran sastra di kelas bahkan di luar kelas melampaui batasan nilai yang semula hanya diterjemahkan dalam bentuk angka-angka pada laporan hasil pendidikan. Namun, lebih jauh lagi pengajaran sastra hendaknya mampu membimbing, mengarahkan, dan mengantarkan peserta didik untuk memahami dirinya sendiri dan hal-hal disekitarnya secara cerdas dan berkarakter. Pengajaran sastra yang dikemas dengan baik dan memperhatikan aspek-aspek kebutuhan siswa berpotensi untuk pengembangan apresiasi siswa dan nilai-nilai moral. Pengajaran sastra yang dilandasi dengan kesungguhan dan terencana sistematis akan lebih efektif dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra itu sendiri.

Model pembelajaran bermain peran dapat digunakan untuk menciptakan model pembelajaran inovatif, dan diarahkan sebagai upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaiatan dengan keterampilan siswa dalam berbicara melalui kegiatan bermain peran. Peran yang dimainkan berdasarkan tontonan siswa dalam tayangan wayang golek. Pemilihan wayang golek dilatarbelakangi dari nilai-nilai budaya yang syarat dengan kehidupan masyarakat. Sehingga warisan budaya leluhur tidak hilang karena tergelincir oleh arus globalisasi.

Berdasarkan fakta di lapangan dalam kegiatan berbicara masih ditemukan banyak permasalahan, para siswa masih sulit untuk menyampaikan paparan secara lisan. Melalui model bermain peran dapat menumbuhkembangkan potensi yang dimiliki siswa, baik yang ada dalam dirinya atau potensi dari luar. Sehinnga dapat mengembangkan karakter siswa ke arah yang lebih baik.

 

Daftar Pustaka

Fajarini, U.(2014). Sosio Didaktika: Jurnal Peranan Kearifan Lokal Dalam Pendidikan Karakter. 1 ( 2), 123-124.

Sulistyobudi, N. (2014). Jantra. Budaya wayang: Kelestarian Tantangan Kedepan. 9(2), 121-122)

Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarata: KENCANA PRENADA MEDIA.

Suendar, dan Pien Supinah. (1993). Pendekatan Teori Sejarah&Apresiasi Sastra Indonesia.Bandung: CV. PIONIR JAYA

Tiezzi, N. Marchettini, & M. Rossini. Extending the Environmental Wisdom beyond the Local Scenario: Ecodynamic Analysis and the Learning Community. http://library.witpress.com/pages/ paperinfo.asp.

Tiezzi, N. Marchettini, & M. Rossini. Extending the Environmental Wisdom beyond the Local Scenario: Ecodynamic Analysis and the Learning Community.

Uno, H.(2007). Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Wikipedia,org. Tersedia dalam https://id.m.wikipedia.org